• Februari 2011
    S S R K J S M
        Apr »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28  

PERNIKAHAN MENURUT HUKUM AGAMA ISLAM

BAB  I

PENDAHULUAN

1st. Latar belakang dan masalah.

Pernikahan adalah Sunnah Rasul sebagai sarana untuk mencapai salah satu tujuan hidup yaitu kebahagian di dunia dan kebahagiaan di akhirat, disamping itu untuk meneruskan keturunan , namun demikian keinginan tersebut belum tentu mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian karena adanya berbagai sebab yang mengakibatkan hubungan suami istri kurang harmonis, kekurang harmonisan tersebut berdampak pertengkaran yang diakhiri dengan perceraian.

Dengan demikian satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah talak, walaupun ini merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT tetapi masih dihalalkan sebagi suatu pengesahan Dari adanya kemungkinan yang memaksa dan tak dapat dihindarkan lagi.

Dari uraian diatas penulis tertarik masalah pernikahan karena merupakan faktor menentukan harmonis tidaknya suatu keluarga.

  1. Alasan penulisan judul.

Karya tulis yang berjudul “ Pernikahan menurut Hukum Agama Islam “ mempunyai pengertian sebagai berikut :

  1. Pernikahan adalah salah satu sebagaian sunnah Rasul.
  2. Mengingat hukum Islam sebagai hukum yang berlaku dan dijamin kebenarannya.
  3. Agar ummat Islam benar-benar mengerti tentang masalah pernikahan menurut Agama Islam.
  4. Agar keluarga muslim dapat membina keluarga yang sakinah, bahagia menurut sari’ah Islam

C. Tujuan penulisan.

  1. Menambah Ilmu pengetahuan bagi penulis dan memberikan semacam wacana bagi pembaca yang budiman.
  2. Sebagai sumber informasi yang Insya Allah dapat memberikan penjelasan tentang hukum nikah kepada para pembaca.
  3. Sebagai modal dasar penyusunan karya ilmiyah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

D. Metode penulisan.

Dalam penyusunan karya tulis ini penulis menggunakan beberapa metode untuk memperoleh data-data sesuai tema yang disajikan karya tulis ini.

  1. Metode kepustakaan, yaitu suatu metode yang dilakukan dengan cara mengambil dan mengutip buku-buku sesuai tema seperti : Al-Qur’an, Al-Hadits, buku-buku perpustakaan dan majalah-majalah.
  2. Metode observasi yaitu suatu metode dalam mencari data-data dengan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung. Sesuai dengan pola dan tingkah laku yang dibutuhkan seperti : mengamati berbagai kejadian dalam lingkungan masyarakat, melihat film, sinetron yang bertemakan keluarga muslim.

E. Sistematika karya tulis

Penulis menyajikan sistem dalam penulisan ini agar pembaca dapat lebih mudah memahami karya ini.

Bab satu merupakan halaman pendahuluan yang terbagi menjadi sub-sub yaitu : latar belakang dan masalah, alasan-alasan penulisan judul, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Munakahat adalah bab kedua dari karya tulis ini yang meliputi rukun dan hukum nikah, kewajiban suami istri, hikmaah pernikahan dan perayaan pernikahan.

Talak dan rujuk merupakan bab selanjutnya yaitu bab dua dari karya tulis ini yang berisi sebagai berikut : Pengertian talak dan hukumnya, Ila, Lian, Dzihar, Khulu’ , Fasakh, lafal dan bilangan talak, Hadanah, Iddah, pengertian dan hukum rujuk, rukun rujuk.

Terdapat pula sumberdaya Keluarga Muslim sebagai bab yang keempat yang meliputi tiga masalah pendidikan anak dan keluarga bahagia.

Penutup adalah bagian akhir ari karya tulis ini yang meliputi simpulan dan saran-saran.

BAB II

MUNAKAHAT

A. Rukun dan hukum nikah

Nikah atau perkawinan ialah akad yang menghalalkan pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim sehingga menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya.

Pernikahan adalah suatu hal yang sangat penting dan mulia untuk mengatur kehidupan berumah tangga dan keturunan. Tanpa pernikahan tidak mungkin seorang laki-laki dapat membentuk dan mengatur rumah tangga yang tertib dan teratur dan juga merupakan suatu dasar yang penting didalam memelihara kemaslahatan bersama.

Bila tidak ada peraturan tentang pernikahan maka manusia akan memperturutkan hawa nafsunya yang pada gilirannya dapat menimbulkan bencana besar dalam masyarakat. Dengan pernikahan seseorang terpelihara dari hal tersebut.

Pernikahan merupan perintah sebagaimana tertuang dalam Al-qur’an surat Annisa ayat 3 yang berbunyi :     َفانْكِحُوْا مَاطاَبَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ ( النساء  3 )

artinya : Maka nikahilah wanita-wanita yang baik bagi kamu sekalian. ( Annisa 3 )

1. Rukun Nikah

a. Calon suami , syaratnya :

–        Beragama Islam

–        Benar-benar lelaki.

–        Tidak karena terpaksa.

–        Bukan mahrom perempuan calon istri.

–        Tidak sedang berhaji/menunaikan umrah.

–        Berusia sekurang-kurangnya 19 tahun.

4

b. Calon istri, syaratnya :

–        Muslimah.

–        Benar-benar perempuan.

–        Tidak karena terpaksa.

–        Halal bagi calon suami.

–        Tidak bersuami.

–        Tidak sedang ikhram, haji atau umrah.

–        Tidak sedang hamil.

–        Usia sekurang-kurangnya 16 tahun.

c. Sighat aqad yang terdiri dari ijab dan qobul.

Ijab adalah perkataan yang diucapkan oleh wali dari mempelai perempuan               dan qobul adalah yang diucapkan oleh mempelai laki-laki.

d. Wali mempelai perempuan, syaratnya :

–        Laki-laki.

–        Beragama islam.

–        Baligh { dewasa }

–        Berakal sehat.

–        Merdeka.

–        Adil dan tidak sedang ikhram, haji atau umrah.

Wali inilah yang menikahkan mempelai laki-laki dan mempelai perempuan atau mengizinkan pernikahannya. Sabda Nabi SAW.

اَيُّمَا اِمْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ( رواه النسائي  )

artinya : wanita manasaja yang menikah tanpa seizin walinya maka pernikahannya itu batal/tidak sah .

5

Mengenai susunan dan urutan yang dapat menjadi wali sebagai berikut :

v Bapak kandung, bapak tiri tidak dapat menjadi wali.

v Bapak  dari bapak perempuan.( kakek )

v Saudara laki-laki sekandung.

v Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung.

v Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak.

v Saudara laki-laki sebapak.

v Paman. Saudara laki-laki bapak.

v Anak laki-laki paman.

v Hakim wali, berlaku apabila wali tersebut diatas semuanya tidak ada, atau berhalangan dan menyerahkan kepada hakim.

e. Dua orang saksi.

syaratnya : Islam, baligh, berakal sehat, merdeka, laki-laki, adil, tidak sedang haji  atau umrah.

Pernikahan yang dilakukan tanpa saksi dipandang tidak sah. Sabda Nabi SAW.

لاَ نِكاَحَ اِلاَّ بِوَلِىٍّ وَشَاهِدَىْ عَدْلٍ

artinya : tidak dikatakan nikah melainkan dengan wali dan dua orang saksi yang adil.

2. Hukum nikah.

Hukumnya terbagi atas lima yaitu

  1. Jaiz : Dibolehkan dan inilah yang menjadi dasar hukum.
  2. Sunnah : apabila orang yang akan melakukan pernikahan ini telah mempunyai keinginan disamping itu juga ia telah mempunyai bekal hidup untuk memberi nafkah secukupnya kepada tanggungannya.

6

  1. wajib artinya : Apabila seseorang yang akan melakukan pernikahan itu telah mempunyai bekal hidup untuk memberi nafkah yang cukup disamping ada kehawatiran ia akan terjerumus kedalam perbuatan maksiat atau zina kalu ia tidak segera menikah.
  2. Makruh artinya : apabila orang yang akan melkukan pernikahan itu telah mempunyai keinginan atau hasrat yang kuat tetapi ia belum mempunyai bekal untuk memberi nafkah tanggungannya.
  3. Haram artinya : apabila orang yang akan melakukan pernikahan itu mempunyai niat buruk, seperti niat untuk menyakiti wanita yang dinikahinya.

B. Kewajiban suami istri.

Kedua laki-laki dan perempuan yang semula masing-masing mempunyai kebebasan maka setelah ia menikah mau tidak mau harus tunduk dan patuh kepada kewajiban masing-masing.

Suatu kewajiban bagi suami adalah hak bagi istri sedangkan kewajiban bagi  istri adalah hak bagi suami sehingga masing-masing mendapatkan hak dan kewajiban.

1. kewajiban suami.

Memberikan  Nafkah, Pakaian, Tempat tinggal kepada Istri dan anak-anak sesuai dengan kemampuan dan upaya maksimal. Memimpin keluarga yaitu istri dan anak-anaknya didalam kehidupan berumah tangga untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu Kesejahteraan, kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Sebagaimana firman Allah :
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلىَ الِّنسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلىَ بَعْضٍ وَبِمَا اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ( النساء . 34 )

7

artinya : kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita oleh karena itu Allah telah melebihkan segaian dari mereka atas sebagian yang lain ( wanita ) dan karena mereka telah menafkahkan harta mereka. ( Annisa ayat 34 ).

2. Kewajiban Istri.

Patuh dan taat kepada suami dalam batas-batas yang tidak menyimpang ajaran agama Islam. Perintah suami yang bertentangan dengan syariat Islam tidak wajib ditaati . Menjaga dan memelihara kehormatan Suami serta harta benda suami, mengatur rumah tangga, mendidik anak-anak.

Berusaha hemat, ridlo, narimo dan bersyukur kepada Allah dan terima kasih kepada suami dan tidak memberatkan suami.

  1. Hikmah pernikahan.

Agama Islam menganjurkan kepada ummatnya untuk menikah dan memberikan ketentuan bagaimana seharusnya pernikahan itu dilaksanakan sesuai dengan ayat-ayat Al-qur’an dan Hadits. Yang telah dijelaskan secara gamblang baik yang tersurat maupun yang tersirat. Hikmah pernikahan sebagai berikut :

  1. Pernikahan dapat menentramkan jiwa
  2. Menjaga Nafsu birahi dari berbuat maksiat.
  3. Memperbanyak keturunan.
  4. Mendatangkan rezeki dan harta benda.
  5. Perayaan pernikahan ( Pesta pernikahan )

Walimatul arsy adalah salah satu rangkaian peristiwa yang wajib dilaksanakan didalam pernikahan, pesta makan-makan dan hiburan adalah hal yang mubah dan diperbolehkan didalam pernikahan, sebagaimana sabda Nabi  yang diriwayatkan oleh Ahmad “ Dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah bersabda ketika menerima lamaran Fatimah beliau bersabda adalah pernikahan itu dengan walimah dan pesta “

8

BAB III

TALAK DAN RUJUK

A. Pengertian dan hukum talak

Talak artinya lepasnya ikatan dalam kaitannya dengan perkawinan, talak berarti lepasnya ikatan pernikahan dengan lafadl talak atau lafadz lainnya yang bermaksud sama dengan maksud talak.

Hukumnya menurut Islam adalah makruh, karena ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan tetapi dibenci oleh Allah. Sesuai dengan sabda Rasulullah.

اَبْغَضُ الْحَلاَلِ عِنْدَ اللهِ الطَّلاَقُ ( رواه ابو داود وابن ماجه )

artinya : perbuatan yang diperbolehkan oleh Allah tapi Paling dibenci Oleh-Nya adalah Talak.

B. Ila, Lian, Dzihar, Khulu’ dan Fasakh.

Ila ialah : sumpah seorang suami bahwa ia tidak akan mencampuri istrinya. Ila merupakan adat Jahiliyah karena bersumpah tidak akan menggauli istrinya adalah hal yang menyakitinya dan membiarkannya menderita berkepanjangan tanpa  kepastian cerai atau tidak. Setelah datangnya Islam adat tersebut dihapus dengan  membatasi waktu sumpah tersebut selama 4 bulan, dalam masa 4 bulan tersebut suami harus mencabut sumpahnya dan kembali kepada istrinya dengan membayar kifarat sumpah dan jika memilih bercerai maka talak bain sughro yang tidak boleh rujuk lagi.

Lian adalah : sumpah seorang suami yang menuduh istrinya berbuat zina , sumpah itu diucapkan empat kali dan pada ucapan sumpah ke 5 dinyatakan dengan kata  “ Laknat Alah atas diriku jika tuduhanku dusta “ . sebaliknya si istri juga dapat mengelak tuduhan tersebut dengan mengucapkan sumpah 4 kali dan pada sumpah ke-5 ia ucapkan .

9

“ Murka Allah atas diriklu bila tuduhan itu benar “. untuk itu perhatikan surat Annur ayat 6 – 9 akibat terjadinya lian , maka suami istri itu selama-lamanya tidak boleh rujuk atau menikah lagi antara keduanya.

Dzihar adalah : Ucapan suami kepada Istrinya yang berisi penyerupaan istrinya dengan ibunya sebagai contoh “ punggungmu seperti punggung ibuku “ pada zaman jahiliyah dzihar dipergunakan sebagai salah satu cara menceraikan istrinya. Kemudian didalam Islam hal tersebut dilarang dan haram hukumnya. Suami yang sudah terlanjur mengucapkan hal tersebut kepada istrinya mka ia harus membayar kafarat Dzihar dan tidak boleh mencampuri istrinya sebelum ia membayar Kafarat tersebut. Adapun kafaratnya adalah memerdekakan  budak , jika tidak mampu ia wajib puasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak dapat maka ia wajib memberi makan 60 orang fakir miskin.

Khulu’ adalah talak tebus berarti menceraikan istri dengan iwad ( tebusan ) oleh pihak istri kepada suami. Khulu dibenarkan kalau ada sebab-sebab yang menghendakinya.

Secara garis besar khulu’ dibagi menjadi 2 macam.

  1. Apabila dikhawatirkan suami istri tidak dapat menjalankan hukum Allah yaitu menciptakan pergaulan rumah tangga yang baik.
  2. Apabila seorang istri sempat benci kepada suaminya karena alasan tertentu sehingga dikhawatirkan akan membuat istri tidak mematuhi suaminya.

Fasakh yaitu : rusaknya ikatan antara suami istri karena sebab-sebab tertentu :

1. Sebab-sebab yang merusak akad nikah seperti :

–        Pernikahan telah dilaksanakan namun dibelakang hari diketahui bahwa Perempuan itu mahram suaminya

10

–        Salah satu dari suami istri telah keluar dari ajaran Islam.

–        Semula suaminya adalah musrik kemudian ia masuk Islam dan istri tetap musrik atau sebaliknya.

2. Sebab-sebab yang menghalangi tujuan pernikahan seperti :

–        Terdapat penipuan dalam pernikahan misalnya laki-laki mengaku orang baik-baik ternyata seorang penjahat.

–        Suami atau istri mengidap penyakit atau cacat yang dapat mengangu hubungan rumah tangga.

–        Suami dinyatakan hilang.

–        Suami dihukum dengan hukuman penjara selama 5 tahun atau lebih.

C. Lafadl dan bilangan talak.

Menurut undang-undang nomor I tahun 1974 tentang perkawinan dan perceraian hanya bisa dilakukan didepan pengadilan agama, setelah pengadilan agama tidak dapat mendamaikan kedua belah pihak. Oleh karena itu talak merupakan ikrar suami dihadapan sidang pengadilan agama menjadi salah satu sebab putusnya tali perkawinan.

D. Hadanah.

Hadanah artinya :Mengasuh, memelihara, dan mendidik anak yang masih kecil . Dalam uraian suami istri telah dijelaskan bahwa kewajiban keduanya adalah mendidik anak seperti yang tertera dalam hadits.

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : خَيْرَ غُلاَمًا مَا بَيْنَ اَبِيْهِ وَ اُمِّهِ ( رواه ابن ماجه و الترمذى )

11

artinya : Bahwa Rasulullah SAW telah menyuruh memilih kepada seorang anak yang             sudah sedikit mengerti untuk tinggal bersma ayahnya atau ibunya

E. Iddah.

Bagi wanita yang diceraikan oleh suaminya baik cerai biasa maupun cerai mati tidak boleh langsung menikah lagi dengan lelaki lain, kecuali harus menunggu masa waktu terlebih dahulu. Masa menunggu itu dinamakan iddah.

Adanya  masa iddah tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah selama masa iddahnya ia hamil atau tidak. Jika ternyata hamil maka anak tersebut masih termasuk anak suaminya yang terdahulu. Wanita yang dalam masa iddahnya ternyata ia mengandung maka waktu menunggunya atau iddahnya ialah sampai ia melahirkan anaknya hal ini berdasarkan firman Allah  SWT :

وَأُوْلاَتُ اْلاَحْمَالِ اَجَلُهُمْ اَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ  ( الطلاق 4 )

artinya : Wanita-wanita yang mengandung iddahnya sampai lahirnya anak yang dikandungnya ( Atthalaq : 4 )

Adapun seorang wanita yang ditinggal mati suaminya massa iddahnya adalah 4 bulan sepuluh hari apabila ia tidak mengandung, hal ini berdasarkan surat Al-baqarah : 234 yang artinya “ Orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu sekalian dengan meninggalkan istri-istri ( hendaklah istri-istri itu ) menangguhkan dirinya dalam waktu 4 bulan 10 hari kemudian apabila telah habis masa iddahnya maka tiada dosa bagimu para wali membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang pantas. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. “

12

F. Pengertian dan hukum Rujuk.

Rujuk artinya kembali, maksudnya adalah kembali kepada ikatan pernikahan , karena rujuk bukan pernikahan baru tetapi meneruskan pernikahan lama. Rujuk tidak memerlukan akad baru lagi karena akad lama masih tetap berlaku.

Hukum rujuk pada dasarnya adalah jaiz ( boleh ) kemudian berlaku hukum haram, makruh, sunah dan wajib menurut keadaan sebagai berikut :

–        Haram apabila dengan rujuk si istri dirugikan , artinya si istri lebih menderita dibanding sebelum rujuk.

–        Makruh apabila diketahui bahwa meneruskan pernikahan lebih buruk dan perceraian lebih bermanfaat bagi keduanya.

–        Sunnah apabila diketahui bahwa meneruskan pernikahan ( rujuk ) lebih baik daripada cerai.

–        Wajib, khusus bagi laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu jika salah seorang di talak sebelum gilirannya disempurnakan.

G. Rukun Rujuk

Rukun rujuk ada 4 :

–        Istri, syaratnya pernah digauli dan talaknya adalah talak Raj’I dan masih dalam masa iddahnya.

–        Suami syaratnya Islam, Baligh, Sehat akal, tidak dipaksa.

–        Sighat atau lafadl rujuk seperti “ saya rujuk kepadamu “

–        Saksi dua orang laki-laki yang adil.

13

BAB  IV

SUMBERDAYA KELUARGA ISLAMI

A. Tiga masalah pendidikan anak.

Sosok orang tua adalah teladan didalam membimbing dan mendidik anak-anaknya , ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  1. Sejak seorang anak dilahirkan sampai berumur 7 tahun fitrah anak dalam masa pertama ini hendaknya disirami dan dipupuk dengan  keyakinan, melatih dan membiasakan, gemar beribadah, cinta kepada sesamanya, cinta mengerjakan kebaikan-kebaikan, menjauhkan kemungkaran-kemungkaran, membaca Al-qur’an dan ilmu-ilmu yang lainnya.
  2. Sejak seorang anak berumur 7 tahun hingga 15 tahun, anak sudah dapat diberinya pelajaran sekaligus untuk diamalkannya, karena seorang anak sudah dapat melakukan pekerjaan dengan sendirinya.
  3. Sejak berumur 15 tahun sampai seterusnya anak harus dididik dengan pola yang disesuaikan dengan kepribadian anak dan memotivasinya untuk selalu berbuat baik dengan cara yang lebih terbuka dan dibarengi dengan komunikasi yang biologis dan penuh kedewasaan.

B. Keluarga bahagia.

Pada dasarnya kebahagiaan sebuah rumah tangga banyak ditentukan oleh pelaksanaan yang baik dan kewajiban suami istri serta seluruh anggota keluarganya yang saling bertanggung jawab. Misalnya , suami bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya sesuai dengan sabda Rasulullah yang artinya “ Dan jika engkau bepergian dipeliharanya herta engkau dan dijaganya darinya.”.

Jadi bila seorang suami sedang melaksanakan tugas, pergi atau dalam perjalanan maka seorang istri berkewajiban memelihara hartanya

14

Seperti yang telah dikemukakan bahwa Allah SWT mensyariatkan perkawinan karena tujuan yang tinggi yang tidak mungkin dicapai kecuali apabila pergaulan suami istri dilakukan dengan baik dengan menjalankan kewajiban masing-masing dengan penuh konsekwen dan istiqomah.

  1. Suami harus memberikan mahar pada istrinya dan itu menjadi milik istrinya yang dapat dipergunakan terhadap apa yang dikehendakinya.
  2. Suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya.
  3. Kewajiban istri adalah memenuhi segala perintah suami , selama sang suami berada dijalan Allah dan Syariat Islam.
  4. Istri tidak boleh durhaka kepada suami, menolak ajakan suami, perpaling dari melayani suami didalam kehidupan berumah tangga.
  5. Istri wajib menjadi selimut Aib , rahasia, kekurangan maupun hal-hal yang bersifat pribadi termasuk hartanya.

15

BAB  V

PENUTUP

A. Simpulan

Setelah penulis melakukan peninjauan-peninjauan dan penelitian-penelitian terhadap masyarakat, sehingga tersusunnya karya tulis ini maka penulis mendapat gambaran tentang masalah pernikahan ( Munakahat ) penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Pernikahan merupakan suatu ikatan yang syah dan harus dipelihara serta dibina kerukunannya oleh kedua belah pihak.
  2. Talak,rujuk merupakan masalah dalam ikatan pernikahan.
  3. Pertengkaran dan percekcokan yang disebabkan oleh perselisihan dan kesalah fahaman didalam berumah tangga adalah hal yang wajar.
  4. Pernikahan memegang peranan penting didalam masyarakat muslim  umumnya dan wanita muslimah khususnya.

B. Hambatan-hambatan.

Hambatan yang dihadapi oleh penulis diantaranya sebagai berikut :

  1. Masih banyak pernikahan dibawah umur akibat dari pergaulan bebas.
  2. Sangat minimnya pemahaman para pelajar tentang free sex sehingga banyak terjadi penyimpangan.
  3. Banyak beredarnya pornografi baik melalui media cetak, elektronik yang tidak mungkin terlewatkan oleh masyarakat awam maupun kalangan pelajar.

C. Saran-saran.

Tidak ada yang lebih berharga bagi seorang wanita kecuali kehormatan yang dimilikinya. Untuk itu penulis memberikan saran sebagai berikut :

16

  1. Hindari terjadinya pernikahan dini akibat pergaulan bebas.
  2. Saringlah budaya , tradisi barat yang menjurus kepada westernisasi yang cenderung kearah free sex.
  3. Bacalah buku.buku pendidikan yang berisikan tentang pergaulan, pernikahan dan pendidikan orang dewasa/ pendidikan sex sehingga faham betul arti dari kehidupan ini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: