• Maret 2017
    S S R K J S M
    « Mei    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

KELULUSAN SMA DARUL IHSAN MUH SRAGEN

Assalamu’alaikum Wr. Wb…

Alhamdulillah……Dengan Rahmat Allah SWT  SMA Darul Ihsan Muh. Sragen tahun  2011 ini  LULUS 100%  dengan Kejujuran, giat belajar , dan disiplin waktu ternyata kami bisa.

Terimskasih banyak atas Do’anya

 

Hidup Ini Singkat

Allah berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Al-Mu’minuun [23] : 112-114)
Ayat di atas merupakan dialog antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan dunia ini. Di situ digambarkan betapa singkatnya hidup di dunia, tidak lebih dari sehari atau setengah hari. Bahkan lebih singkat dari itu. Tidak peduli kita siap atau tidak, kehidupan ini akan berakhir dengan kematian. Ketika saatnya tiba, tidak seorang pun yang bisa menunda walaupun sesaat.
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya…” (Al-Munaafiqun [63]: 11)
Kita pasti mati. Tetapi itu bukan akhir dari segalanya. Bahkan inilah awal dari kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang abadi. Di sana manusia tinggal menerima risiko dari apa yang dilakukannya selama hidup di dunia. Pada akhirnya hanya ada dua pilihan ekstrim, ditempatkan di surga dan merasakan hidup penuh kebahagiaan tanpa batas. Atau sebaliknya, ditempatkan di neraka dan menderita selamanya tanpa batas. Inilah risiko terberat bagi perjalanan hidup manusia. Tidak ada yang lebih berat dari itu.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada sesuatu yang dialami anak Adam dari apa yang diciptakan Allah lebih berat daripada kematian. Baginya kematian lebih ringan daripada apa yang akan dialaminya sesudahnya.” (Riwayat Ahmad).
Selama di dunia kita mungkin mengalami berbagai kegagalan, tetapi itu hanya sementara. Kalau kita gagal meraih keuntungan hari ini, besok kita masih bisa meraihnya. Kalau kita tidak lulus ujian sekolah, kita bisa memperbaikinya dengan mengikuti ujian perbaikan. Kalau kita tidak naik pangkat tahun ini, tahun depan atau tahun depannya lagi kita bisa mendapatkannya, asalkan ajal belum datang menjemput kita. Tetapi begitu datang kematian, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki catatan amal kita. Tidak mungkin kita kembali ke dunia walaupun kita sangat menginginkannya.
Sebagian manusia terlena oleh kehidupan dunia ini. Mereka menganggap bahwa hidup itu hanya di dunia ini saja dan kemudian mengisinya dengan sekadar bersenang-senang, makan minum, pesta-pesta, hiburan, musik, film, dan fashion. Menikmati hidup, kata mereka. Mereka tidak menyadari ada kehidupan sesudah mati. Mereka itulah yang akan merasakan penyesalan yang luar biasa ketika tiba saat kematian. “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan amal saleh untuk hidupku ini.” (Al-Fajr [89]: 24).
Begitulah ucapan orang-orang yang tidak menyangka bahwa mereka akan memasuki kehidupan yang abadi, kehidupan yang sebenarnya. Segala kesenangan yang mereka nikmati di dunia tidak ada artinya dibandingkan penderitaan yang akan mereka tanggung. Mereka akan mendapati kehidupan dari waktu ke waktu dengan segala penderitaan yang tidak akan pernah berakhir.
Butuh Bekal
Hidup ini singkat. Kalau kita mendapatkan kesenangan di dunia, itu adalah kesenangan yang sangat singkat. Kalau kita menderita, itupun sebenarnya penderitaan yang teramat singkat. Sekali lagi, hanya sehari atau setengah hari saja, atau lebih singkat lagi. Sama sekali tidak sebanding dengan yang akan kita alami sesudah kematian.
Hidup adalah sebuah perjalanan. Sebagaimana layaknya orang yang menempuh sebuah perjalanan, kita membutuhkan bekal. Jika perjalanan kita seminggu, maka paling sedikit kita menyiapkan bekal untuk keperluan selama minggu. Tas yang kita bawa berisi pakaian ganti yang harus cukup untuk seminggu. Uang saku di dompet kita juga harus cukup untuk kebutuhan seminggu. Jika kita bepergian selama sebulan tentu bekal dan persiapan kita harus lebih besar lagi.
Perjalanan hidup sesudah mati adalah perjalanan abadi, dan tanpa batas waktu. Bagi orang yang menyadari betapa panjangnya perjalanan itu, tentu akan jauh lebih serius mempersiapkannya. Seluruh waktu dan kesempatan hidup di dunia ini, kita manfaatkan sepenuhnya untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang abadi itu. Ia akan pertaruhkan seluruh hidupnya dan apa pun yang dia miliki untuk mendapatkan kehidupan yang baik sesudah kematiannya.
Dalam kehidupan dunia ini mungkin kita pernah kehabisan bekal. Jika demikian, tentu kita akan mengalami berbagai kesulitan dan kesusahan selama perjalanan. Meskipun begitu, kita masih bisa mencari bekal itu sepanjang perjalanan. Tetapi dalam perjalanan hidup sesudah mati, di sana kita tidak mungkin lagi mengumpulkan bekal. Semua harus dicari di dunia ini. Semuanya harus siap sebelum datang kematian.
Apa yang harus dibawa dalam perjalanan itu? Tentu tidak semua yang kita miliki kita bawa. Kita harus pandai-pandai memilih yang bermanfaat. Segala sesuatu yang tidak berguna hanya akan memperberat perjalanan. Di antara yang kita bawa dalam perjalanan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, ada yang tidak boleh tertinggal yaitu keimanan, ketakwaan, dan amal saleh kita. Itulah bekal terbaik kita. Allah berfirman:
“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…” (Al-Baqarah [2]: 197)
Ada yang pasti kita tinggalkan ketika kita melanjutkan perjalanan menuju akhirat. Nabi bersabda: “Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Hadits ini tentu saja tidak mengajarkan kita untuk membenci harta, sebab itu adalah bagian dari bekal untuk hidup di dunia. Juga tidak mengajak kita untuk mengabaikan keluarga dan sesama, sebab tidak mungkin kita hidup di dunia ini tanpa mereka. Secara fisik harta itu memang kita tinggalkan, tetapi nilai amal saleh dari harta itu akan abadi bersama kita. Hal itu hanya bisa terjadi apabila harta itu kita belanjakan di jalan yang diridhai Allah. Demikian juga dengan keluarga dan saudara-saudara kita, jasad mereka memang tidak menyertai kita lagi, tetapi kebaikan yang kita tanamkan dalam interaksi kita di dunia tetap akan menyertai kita. Saudara-saudara seiman itu akan senantiasa mengirimkan doanya untuk kita. Anak-anak yang saleh juga akan senantiasa memberi kebaikan kepada kita. Ilmu yang kita ajarkan kepada sesama juga akan menjadi investasi yang memberi kuntungan yang tidak pernah putus. Semuanya akan menjadi amal saleh.
Hidup ini adalah perjalanan yang singkat. Setiap detik mengantarkan kita semakin dekat dengan batas akhir. Semoga waktu yang teramat singkat ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya.*Ust Amiruddin Ahmad Ponpes Darul Ihsan Muh. Sragen* e-mail : smp_dimsa@yahoo.com

Cinta Dunia adalah Karunia dari Allah

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali-Imran [3] : 14)
Makna Ayat
Ayat ini menjelaskan tentang adanya syahwat (kecenderungan) manusia terhadap pesona dunia. Atas kehendak Sang Pencipta, manusia terlahir dengan dibekali syahwat dan ketertarikan kepada beberapa hal di dunia ini. Tentunya, penyebutan ini tak bermaksud untuk menafikan kecenderungan tersebut. Justru ia adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut disyukuri. Sebab, ketertarikan tersebut adalah sesuatu yang fitrah dalam kehidupan manusia.
Dari sekian banyak kecenderungan manusia, daya tarik terhadap perempuan rupanya menempati urutan pertama. Ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Betapa peran seorang wanita sangatlah vital dalam kehidupan ini. Ibarat dua sisi mata uang, wanita bisa menjadi tiang yang kokoh menyangga peran laki-laki. Sebaliknya, pesona wanita juga bisa menjadi biang dari segala permasalahan yang ada. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Tidaklah saya tinggalkan fitnah yang paling berbahaya setelahku kecuali persoalan wanita.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Demikian pula pada kecintaan manusia terhadap anak dan keturunan. Ketika hal tersebut tak memalingkan dari ibadah kepada Allah Ta’ala, niscaya ia menjadi suatu hal yang terpuji. Di antara para nabi bahkan ada yang melantunkan doa khusus mengharapkan keturunan. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, ketika Nabi Zakariyya alaihissalam memohon: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali-Imran [3]:38).
Namun, jika kecintaan tersebut menjadikan saling berbangga dengan keturunannya, serta lalai kepada Allah, niscaya hal tersebut justru mendatangkan murka Allah. Hal yang sama berlaku terhadap kecenderungan dan kecintaan manusia lainnya. Ia boleh menjadi faktor yang mendekatkan diri kepada Allah. Atau sebaliknya, menjadi sebab datangnya murka Allah kepadanya.
Terbagi Dua Kelompok
Abdurrahman as-Sa’di, dalam kitab tafsirnya Taisir Karim ar-Rahman fi Kalam al-Mannan menjelaskan, manusia terbagi menjadi dua kelompok terkait dengan adanya kecintaan mereka terhadap pesona dunia. Pertama, mereka yang menjadikan dunia beserta segala isinya sebagai tujuan utama hidup mereka. Alhasil, layaknya sebuah cita-cita yang harus diraih. Mereka siap berkorban apa saja demi tercapainya harapan tersebut. Seluruh waktu, pikiran, tenaga, dan bahkan harta dihabiskan demi menggapai apa yang mereka cita-citakan.
Manusia seperti itu lupa tujuan hidupnya. Mereka tak lagi ingat jika kelak akan kembali dan mempertanggungjawabkan segala yang mereka perbuat di dunia.
Alhasil, tanpa disadari, gaya hidup mereka, tak ubahnya makhluk ciptaan Allah yang lain. Di dalam surah Muhammad [47] ayat 12, Allah menyindir kelompok tersebut dengan menyerupakan mereka dengan binatang, yang hanya tahu makan dan bersenang-senang saja. Tanpa ada orientasi dan tujuan hidup yang jelas. Boro-boro mengurus dakwah dan agama ini, kadang urusan keluarga sampai terlupakan akibat terlena dengan ambisi duniawi. Manusia lupa akan hakikat dari penciptaan mereka di dunia. Bahwasanya kehidupan ini hanyalah persinggahan untuk menuju halte kehidupan berikutnya.
Kelompok kedua –menurut murid Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah ini- adalah manusia yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Segala daya tarik di dunia ini tak menjadikan mereka berpaling dari tujuan sebenarnya.
Sikap semacam itu tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan panjang di dunia ini tentu tak cukup dengan bekal semangat dan keyakinan saja. Ia butuh bermacam hal sebagai bekal yang perlu disiapkan. Salah satunya adalah merawat kesadaran hati dan niat. Kejernihan hati berbanding lurus dengan sebuah amalan. Dengan hati yang bersih, seseorang mampu menjaga sikap dan perbuatannya.
Ibnul Jauzy, pernah mengingatkan untuk berhati-hati dalam urusan daya tarik duniawi tersebut. Sebab, hanya tersisa celah yang sangat kecil untuk membedakan antara kecenderungan yang didasari fitrah manusia dengan kesenangan yang berdasar dari hawa nafsu. Ibnul Jauzy lalu mengibaratkan nafsu tersebut dengan air. Di mana-mana sifat air cenderung memilih dan mendatangi tempat yang lebih rendah. Sama halnya dengan nafsu yang seringkali memperturutkan keinginan jiwa yang rendah. Manusia yang terjebak dengan hawa nafsunya, hanya mampu menikmati dan bersenang-senang saja. Ia tak bisa diajak melakukan sesuatu yang lebih besar dan menantang. Sebab, jiwa mereka telah dikekang dan dikendalikan oleh nafsu yang rendah tersebut.
Bahkan tak jarang, apa yang bukan haknya ikut direbut dan dirampas. Maraknya kejahatan yang terjadi di masyarakat menjadi potret yang sangat jelas. Tatanan masyarakat menjadi kacau dan tidak teratur. Masyarakat seolah–olah kehilangan hati nurani. Mereka tak mampu lagi memilih kebaikan yang ada. Kecuali memperturutkan keinginan rendah mereka.
Sikap Orang Beriman
Dalam urusan daya tarik dunia, sangat menarik jika mencermati sikap orang-orang mukmin. Sebab, mereka juga tetap menikmati kenikmatan dan fasilitas duniawi ini. Orang-orang yang beriman menganggap kecenderungan ini sebagai karunia dari Allah yang patut disyukuri dan disebarkan. Namun ternyata, mereka tak sebatas bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Justru mereka menjadikan fasilitas tersebut sebagai upaya mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Nikmat. Alhasil, kebahagiaan di dunia mereka bisa raih. Seiring kebahagiaan di akhirat juga akan terpenuhi sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala.
Di antara para sahabat, kita melihat Abdurrahman bin Auf, seorang konglomerat raksasa ketika itu. Bisnisnya merajai dunia ekonomi di seluruh jazirah Arab. Namun, tak segan ia menginfaqkan separo harta yang ia miliki untuk kepentingan umat Islam.
Di kalangan sahabat, kita juga mengenal kelompok ahlus suffah, para sahabat yang tak punya tempat untuk berteduh kecuali mereka menginap di beranda masjid. Namun, sama sekali tak pernah ada kerisauan di benak mereka. Sebab, mereka telah menyadari apa maksud dari segala kesenangan dan daya tarik di dunia tersebut.
Dengan pemahaman di atas, maka tak lagi ada perbedaan antara si kaya dan si miskin di dunia ini. Sebab, orientasi mereka tidak berbeda dalam menyikapi kesenangan dan kenikmatan dunia. Kecuali sebagai bentuk ujian kesabaran dan keteguhan dalam menjalani kehidupan dunia ini. *Ust Amiruddin Ahmad Ponpes Darul Ihsan Muh. Sragen* e-mail : smp_dimsa@yahoo.com

Scroll Text - http://www.marqueetextlive.com

free photo rating

BACAAN SHOLAT FARDLU

BACAAN SHOLAT FARDLU

1. TAKBIR ;

Allah Maha Besarالله اكبر

2. DO’A  IFTITHAH  :

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنيِ وَ بَينَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَينَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ

Ya Allah Jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara timur dan barat.

اَللّهُمَّ نَقِنيِ مِنَ اْلخَطَايَ كَمَا يُنَقَّي الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ

Ya Allah Bersihkanlah aku dari Kesalahan-kesalahan sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran

اَللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالمْاَءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبرَدِ

Ya Allah Bersihkanlah Kesalahan-kesalahanku dengan air  , dan air es serta  air embun.

3. AL-FATIKHAH

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العا لمين . الرحمن الرحيم مالك يوم الدين اياك نعبد

واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضا لين

Segala puji bagi Allah yang mengasuh semua alam. Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pengasih. Yang mengadili pada hari qiamat. Hanya Engkau yang aku sembah dan hanya Engkau yang aku mintai pertolongan. Tunjukkanlah aku jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang Engkau beri kenikmatan, yang tidak dimurkai dan tidak pula jalan yang sesat.

TA’MIN

اَ مِينْ

Kabulkanlah permohonanku

4. TASBIH DALAM RUKU’

سُبْحَانَ رَبيِّ اَلْعَظِيْمِ  atau

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّنَا وَبحِـَمْدِكَ اللّهُمَّ اغْفِرْلىِ

Maha suci tuhanku, Yang Maha Agung

Maha suci Engkau Ya Allah Tuhan  kami dan dengan memuji-Mu Ya Allah Ampunilah Aku.

5. TASBIH DALAM I’TIDAL

سمَعَ اللهُ لمِنْ حمَـِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَمْدُ

Semoga Allah mendengar orang yang memujinya, Ya Tuhanku ! Dan segala puji itu bagi Allah.

6. TASBIH DALAM SUJUD

سُبْحَانَ رَبيِّ اْلاَعْلَي

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi

7. DO’A WAKTU DUDUK ANTARA DUA SUJUD

اللَّهُمَّ اغْفِرْليِ وَارْحمَنيِ وَاْجُبرْنيِ وَاهْدِنيِ وَارْزُقْنيِ

Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku, dan berilah rezeki kepadaku.

8. BACAAN  TASYAHHUD

التَّحِيَّاتُ للهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَاالَّنِبي وَرَحمْةُالله

وَبَرَكَاتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَي عِبَادِ اللهِ الصَّالحِينَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ محُمَّدًا عًبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Segala kehormatan, kebahagiaan dan kebagusan adalah kepunyaan Allah. Semoga keselamatan bagi engkau, ya Nabi Muhammad, beserta rahmat dan kebahagiaan Allah. Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nya .

9. DO’A SHOLAWAT NABI

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَي محمدٍ وَعَلَي الِ محمدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَالِ اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَي محمدٍ والِ محمدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَالِ اِبْرَاهِيْمَ. اِنَّكَ حمَـِيْدٌ مجَـِيْدٌ.

Ya Allah, limpahkan kemurahan-Mu kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Kau telah limpahkan kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Kau telah berkahi Ibrahim dan keluarganya.

Sesungguhnya Engkau Yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.

10. DO’A SESUDAH  TASYAHHUD  AWWAL

اَللّهُمَّ اِنيِّ ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرْاً وَلاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ فَاغْفِرْليِ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحمَـْنيِ اِنَّكَ اَنْتَ اْلَغفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Ya Allah, aku sudah banyak menganiaya diriku, dan tiada yang dapat mengampuni dosa, selain Engkau. Maka ampunilah aku dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pengampun dan Penyayang.

11. DO’A SESUDAH TASYAHHUD AKHIR

اَللّهُمَّ اِنيِّ اَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ اْلَقْبرِ وَمِنْ فِتْنَةِ اْلمحَيْاَ وَاْلمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari siksa jahannam dan dari siksa qubur, begitu juga dari fitnah hidup dan mati, serta dari jahatnya fitnah Dajjal ( Pengembara yang dusta ).

12. SALAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah

PERNIKAHAN MENURUT HUKUM AGAMA ISLAM

BAB  I

PENDAHULUAN

1st. Latar belakang dan masalah.

Pernikahan adalah Sunnah Rasul sebagai sarana untuk mencapai salah satu tujuan hidup yaitu kebahagian di dunia dan kebahagiaan di akhirat, disamping itu untuk meneruskan keturunan , namun demikian keinginan tersebut belum tentu mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian karena adanya berbagai sebab yang mengakibatkan hubungan suami istri kurang harmonis, kekurang harmonisan tersebut berdampak pertengkaran yang diakhiri dengan perceraian.

Dengan demikian satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah talak, walaupun ini merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT tetapi masih dihalalkan sebagi suatu pengesahan Dari adanya kemungkinan yang memaksa dan tak dapat dihindarkan lagi.

Dari uraian diatas penulis tertarik masalah pernikahan karena merupakan faktor menentukan harmonis tidaknya suatu keluarga.

  1. Alasan penulisan judul.

Karya tulis yang berjudul “ Pernikahan menurut Hukum Agama Islam “ mempunyai pengertian sebagai berikut :

  1. Pernikahan adalah salah satu sebagaian sunnah Rasul.
  2. Mengingat hukum Islam sebagai hukum yang berlaku dan dijamin kebenarannya.
  3. Agar ummat Islam benar-benar mengerti tentang masalah pernikahan menurut Agama Islam.
  4. Agar keluarga muslim dapat membina keluarga yang sakinah, bahagia menurut sari’ah Islam

C. Tujuan penulisan.

  1. Menambah Ilmu pengetahuan bagi penulis dan memberikan semacam wacana bagi pembaca yang budiman.
  2. Sebagai sumber informasi yang Insya Allah dapat memberikan penjelasan tentang hukum nikah kepada para pembaca.
  3. Sebagai modal dasar penyusunan karya ilmiyah pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

D. Metode penulisan.

Dalam penyusunan karya tulis ini penulis menggunakan beberapa metode untuk memperoleh data-data sesuai tema yang disajikan karya tulis ini.

  1. Metode kepustakaan, yaitu suatu metode yang dilakukan dengan cara mengambil dan mengutip buku-buku sesuai tema seperti : Al-Qur’an, Al-Hadits, buku-buku perpustakaan dan majalah-majalah.
  2. Metode observasi yaitu suatu metode dalam mencari data-data dengan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung. Sesuai dengan pola dan tingkah laku yang dibutuhkan seperti : mengamati berbagai kejadian dalam lingkungan masyarakat, melihat film, sinetron yang bertemakan keluarga muslim.

E. Sistematika karya tulis

Penulis menyajikan sistem dalam penulisan ini agar pembaca dapat lebih mudah memahami karya ini.

Bab satu merupakan halaman pendahuluan yang terbagi menjadi sub-sub yaitu : latar belakang dan masalah, alasan-alasan penulisan judul, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Munakahat adalah bab kedua dari karya tulis ini yang meliputi rukun dan hukum nikah, kewajiban suami istri, hikmaah pernikahan dan perayaan pernikahan.

Talak dan rujuk merupakan bab selanjutnya yaitu bab dua dari karya tulis ini yang berisi sebagai berikut : Pengertian talak dan hukumnya, Ila, Lian, Dzihar, Khulu’ , Fasakh, lafal dan bilangan talak, Hadanah, Iddah, pengertian dan hukum rujuk, rukun rujuk.

Terdapat pula sumberdaya Keluarga Muslim sebagai bab yang keempat yang meliputi tiga masalah pendidikan anak dan keluarga bahagia.

Penutup adalah bagian akhir ari karya tulis ini yang meliputi simpulan dan saran-saran.

BAB II

MUNAKAHAT

A. Rukun dan hukum nikah

Nikah atau perkawinan ialah akad yang menghalalkan pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim sehingga menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya.

Pernikahan adalah suatu hal yang sangat penting dan mulia untuk mengatur kehidupan berumah tangga dan keturunan. Tanpa pernikahan tidak mungkin seorang laki-laki dapat membentuk dan mengatur rumah tangga yang tertib dan teratur dan juga merupakan suatu dasar yang penting didalam memelihara kemaslahatan bersama.

Bila tidak ada peraturan tentang pernikahan maka manusia akan memperturutkan hawa nafsunya yang pada gilirannya dapat menimbulkan bencana besar dalam masyarakat. Dengan pernikahan seseorang terpelihara dari hal tersebut.

Pernikahan merupan perintah sebagaimana tertuang dalam Al-qur’an surat Annisa ayat 3 yang berbunyi :     َفانْكِحُوْا مَاطاَبَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ ( النساء  3 )

artinya : Maka nikahilah wanita-wanita yang baik bagi kamu sekalian. ( Annisa 3 )

1. Rukun Nikah

a. Calon suami , syaratnya :

–        Beragama Islam

–        Benar-benar lelaki.

–        Tidak karena terpaksa.

–        Bukan mahrom perempuan calon istri.

–        Tidak sedang berhaji/menunaikan umrah.

–        Berusia sekurang-kurangnya 19 tahun.

4

b. Calon istri, syaratnya :

–        Muslimah.

–        Benar-benar perempuan.

–        Tidak karena terpaksa.

–        Halal bagi calon suami.

–        Tidak bersuami.

–        Tidak sedang ikhram, haji atau umrah.

–        Tidak sedang hamil.

–        Usia sekurang-kurangnya 16 tahun.

c. Sighat aqad yang terdiri dari ijab dan qobul.

Ijab adalah perkataan yang diucapkan oleh wali dari mempelai perempuan               dan qobul adalah yang diucapkan oleh mempelai laki-laki.

d. Wali mempelai perempuan, syaratnya :

–        Laki-laki.

–        Beragama islam.

–        Baligh { dewasa }

–        Berakal sehat.

–        Merdeka.

–        Adil dan tidak sedang ikhram, haji atau umrah.

Wali inilah yang menikahkan mempelai laki-laki dan mempelai perempuan atau mengizinkan pernikahannya. Sabda Nabi SAW.

اَيُّمَا اِمْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ( رواه النسائي  )

artinya : wanita manasaja yang menikah tanpa seizin walinya maka pernikahannya itu batal/tidak sah .

5

Mengenai susunan dan urutan yang dapat menjadi wali sebagai berikut :

v Bapak kandung, bapak tiri tidak dapat menjadi wali.

v Bapak  dari bapak perempuan.( kakek )

v Saudara laki-laki sekandung.

v Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung.

v Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak.

v Saudara laki-laki sebapak.

v Paman. Saudara laki-laki bapak.

v Anak laki-laki paman.

v Hakim wali, berlaku apabila wali tersebut diatas semuanya tidak ada, atau berhalangan dan menyerahkan kepada hakim.

e. Dua orang saksi.

syaratnya : Islam, baligh, berakal sehat, merdeka, laki-laki, adil, tidak sedang haji  atau umrah.

Pernikahan yang dilakukan tanpa saksi dipandang tidak sah. Sabda Nabi SAW.

لاَ نِكاَحَ اِلاَّ بِوَلِىٍّ وَشَاهِدَىْ عَدْلٍ

artinya : tidak dikatakan nikah melainkan dengan wali dan dua orang saksi yang adil.

2. Hukum nikah.

Hukumnya terbagi atas lima yaitu

  1. Jaiz : Dibolehkan dan inilah yang menjadi dasar hukum.
  2. Sunnah : apabila orang yang akan melakukan pernikahan ini telah mempunyai keinginan disamping itu juga ia telah mempunyai bekal hidup untuk memberi nafkah secukupnya kepada tanggungannya.

6

  1. wajib artinya : Apabila seseorang yang akan melakukan pernikahan itu telah mempunyai bekal hidup untuk memberi nafkah yang cukup disamping ada kehawatiran ia akan terjerumus kedalam perbuatan maksiat atau zina kalu ia tidak segera menikah.
  2. Makruh artinya : apabila orang yang akan melkukan pernikahan itu telah mempunyai keinginan atau hasrat yang kuat tetapi ia belum mempunyai bekal untuk memberi nafkah tanggungannya.
  3. Haram artinya : apabila orang yang akan melakukan pernikahan itu mempunyai niat buruk, seperti niat untuk menyakiti wanita yang dinikahinya.

B. Kewajiban suami istri.

Kedua laki-laki dan perempuan yang semula masing-masing mempunyai kebebasan maka setelah ia menikah mau tidak mau harus tunduk dan patuh kepada kewajiban masing-masing.

Suatu kewajiban bagi suami adalah hak bagi istri sedangkan kewajiban bagi  istri adalah hak bagi suami sehingga masing-masing mendapatkan hak dan kewajiban.

1. kewajiban suami.

Memberikan  Nafkah, Pakaian, Tempat tinggal kepada Istri dan anak-anak sesuai dengan kemampuan dan upaya maksimal. Memimpin keluarga yaitu istri dan anak-anaknya didalam kehidupan berumah tangga untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu Kesejahteraan, kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Sebagaimana firman Allah :
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلىَ الِّنسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلىَ بَعْضٍ وَبِمَا اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ( النساء . 34 )

7

artinya : kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita oleh karena itu Allah telah melebihkan segaian dari mereka atas sebagian yang lain ( wanita ) dan karena mereka telah menafkahkan harta mereka. ( Annisa ayat 34 ).

2. Kewajiban Istri.

Patuh dan taat kepada suami dalam batas-batas yang tidak menyimpang ajaran agama Islam. Perintah suami yang bertentangan dengan syariat Islam tidak wajib ditaati . Menjaga dan memelihara kehormatan Suami serta harta benda suami, mengatur rumah tangga, mendidik anak-anak.

Berusaha hemat, ridlo, narimo dan bersyukur kepada Allah dan terima kasih kepada suami dan tidak memberatkan suami.

  1. Hikmah pernikahan.

Agama Islam menganjurkan kepada ummatnya untuk menikah dan memberikan ketentuan bagaimana seharusnya pernikahan itu dilaksanakan sesuai dengan ayat-ayat Al-qur’an dan Hadits. Yang telah dijelaskan secara gamblang baik yang tersurat maupun yang tersirat. Hikmah pernikahan sebagai berikut :

  1. Pernikahan dapat menentramkan jiwa
  2. Menjaga Nafsu birahi dari berbuat maksiat.
  3. Memperbanyak keturunan.
  4. Mendatangkan rezeki dan harta benda.
  5. Perayaan pernikahan ( Pesta pernikahan )

Walimatul arsy adalah salah satu rangkaian peristiwa yang wajib dilaksanakan didalam pernikahan, pesta makan-makan dan hiburan adalah hal yang mubah dan diperbolehkan didalam pernikahan, sebagaimana sabda Nabi  yang diriwayatkan oleh Ahmad “ Dari Buraidah ia berkata bahwa Rasulullah bersabda ketika menerima lamaran Fatimah beliau bersabda adalah pernikahan itu dengan walimah dan pesta “

8

BAB III

TALAK DAN RUJUK

A. Pengertian dan hukum talak

Talak artinya lepasnya ikatan dalam kaitannya dengan perkawinan, talak berarti lepasnya ikatan pernikahan dengan lafadl talak atau lafadz lainnya yang bermaksud sama dengan maksud talak.

Hukumnya menurut Islam adalah makruh, karena ia merupakan sesuatu yang diperbolehkan tetapi dibenci oleh Allah. Sesuai dengan sabda Rasulullah.

اَبْغَضُ الْحَلاَلِ عِنْدَ اللهِ الطَّلاَقُ ( رواه ابو داود وابن ماجه )

artinya : perbuatan yang diperbolehkan oleh Allah tapi Paling dibenci Oleh-Nya adalah Talak.

B. Ila, Lian, Dzihar, Khulu’ dan Fasakh.

Ila ialah : sumpah seorang suami bahwa ia tidak akan mencampuri istrinya. Ila merupakan adat Jahiliyah karena bersumpah tidak akan menggauli istrinya adalah hal yang menyakitinya dan membiarkannya menderita berkepanjangan tanpa  kepastian cerai atau tidak. Setelah datangnya Islam adat tersebut dihapus dengan  membatasi waktu sumpah tersebut selama 4 bulan, dalam masa 4 bulan tersebut suami harus mencabut sumpahnya dan kembali kepada istrinya dengan membayar kifarat sumpah dan jika memilih bercerai maka talak bain sughro yang tidak boleh rujuk lagi.

Lian adalah : sumpah seorang suami yang menuduh istrinya berbuat zina , sumpah itu diucapkan empat kali dan pada ucapan sumpah ke 5 dinyatakan dengan kata  “ Laknat Alah atas diriku jika tuduhanku dusta “ . sebaliknya si istri juga dapat mengelak tuduhan tersebut dengan mengucapkan sumpah 4 kali dan pada sumpah ke-5 ia ucapkan .

9

“ Murka Allah atas diriklu bila tuduhan itu benar “. untuk itu perhatikan surat Annur ayat 6 – 9 akibat terjadinya lian , maka suami istri itu selama-lamanya tidak boleh rujuk atau menikah lagi antara keduanya.

Dzihar adalah : Ucapan suami kepada Istrinya yang berisi penyerupaan istrinya dengan ibunya sebagai contoh “ punggungmu seperti punggung ibuku “ pada zaman jahiliyah dzihar dipergunakan sebagai salah satu cara menceraikan istrinya. Kemudian didalam Islam hal tersebut dilarang dan haram hukumnya. Suami yang sudah terlanjur mengucapkan hal tersebut kepada istrinya mka ia harus membayar kafarat Dzihar dan tidak boleh mencampuri istrinya sebelum ia membayar Kafarat tersebut. Adapun kafaratnya adalah memerdekakan  budak , jika tidak mampu ia wajib puasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak dapat maka ia wajib memberi makan 60 orang fakir miskin.

Khulu’ adalah talak tebus berarti menceraikan istri dengan iwad ( tebusan ) oleh pihak istri kepada suami. Khulu dibenarkan kalau ada sebab-sebab yang menghendakinya.

Secara garis besar khulu’ dibagi menjadi 2 macam.

  1. Apabila dikhawatirkan suami istri tidak dapat menjalankan hukum Allah yaitu menciptakan pergaulan rumah tangga yang baik.
  2. Apabila seorang istri sempat benci kepada suaminya karena alasan tertentu sehingga dikhawatirkan akan membuat istri tidak mematuhi suaminya.

Fasakh yaitu : rusaknya ikatan antara suami istri karena sebab-sebab tertentu :

1. Sebab-sebab yang merusak akad nikah seperti :

–        Pernikahan telah dilaksanakan namun dibelakang hari diketahui bahwa Perempuan itu mahram suaminya

10

–        Salah satu dari suami istri telah keluar dari ajaran Islam.

–        Semula suaminya adalah musrik kemudian ia masuk Islam dan istri tetap musrik atau sebaliknya.

2. Sebab-sebab yang menghalangi tujuan pernikahan seperti :

–        Terdapat penipuan dalam pernikahan misalnya laki-laki mengaku orang baik-baik ternyata seorang penjahat.

–        Suami atau istri mengidap penyakit atau cacat yang dapat mengangu hubungan rumah tangga.

–        Suami dinyatakan hilang.

–        Suami dihukum dengan hukuman penjara selama 5 tahun atau lebih.

C. Lafadl dan bilangan talak.

Menurut undang-undang nomor I tahun 1974 tentang perkawinan dan perceraian hanya bisa dilakukan didepan pengadilan agama, setelah pengadilan agama tidak dapat mendamaikan kedua belah pihak. Oleh karena itu talak merupakan ikrar suami dihadapan sidang pengadilan agama menjadi salah satu sebab putusnya tali perkawinan.

D. Hadanah.

Hadanah artinya :Mengasuh, memelihara, dan mendidik anak yang masih kecil . Dalam uraian suami istri telah dijelaskan bahwa kewajiban keduanya adalah mendidik anak seperti yang tertera dalam hadits.

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : خَيْرَ غُلاَمًا مَا بَيْنَ اَبِيْهِ وَ اُمِّهِ ( رواه ابن ماجه و الترمذى )

11

artinya : Bahwa Rasulullah SAW telah menyuruh memilih kepada seorang anak yang             sudah sedikit mengerti untuk tinggal bersma ayahnya atau ibunya

E. Iddah.

Bagi wanita yang diceraikan oleh suaminya baik cerai biasa maupun cerai mati tidak boleh langsung menikah lagi dengan lelaki lain, kecuali harus menunggu masa waktu terlebih dahulu. Masa menunggu itu dinamakan iddah.

Adanya  masa iddah tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah selama masa iddahnya ia hamil atau tidak. Jika ternyata hamil maka anak tersebut masih termasuk anak suaminya yang terdahulu. Wanita yang dalam masa iddahnya ternyata ia mengandung maka waktu menunggunya atau iddahnya ialah sampai ia melahirkan anaknya hal ini berdasarkan firman Allah  SWT :

وَأُوْلاَتُ اْلاَحْمَالِ اَجَلُهُمْ اَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ  ( الطلاق 4 )

artinya : Wanita-wanita yang mengandung iddahnya sampai lahirnya anak yang dikandungnya ( Atthalaq : 4 )

Adapun seorang wanita yang ditinggal mati suaminya massa iddahnya adalah 4 bulan sepuluh hari apabila ia tidak mengandung, hal ini berdasarkan surat Al-baqarah : 234 yang artinya “ Orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu sekalian dengan meninggalkan istri-istri ( hendaklah istri-istri itu ) menangguhkan dirinya dalam waktu 4 bulan 10 hari kemudian apabila telah habis masa iddahnya maka tiada dosa bagimu para wali membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang pantas. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. “

12

F. Pengertian dan hukum Rujuk.

Rujuk artinya kembali, maksudnya adalah kembali kepada ikatan pernikahan , karena rujuk bukan pernikahan baru tetapi meneruskan pernikahan lama. Rujuk tidak memerlukan akad baru lagi karena akad lama masih tetap berlaku.

Hukum rujuk pada dasarnya adalah jaiz ( boleh ) kemudian berlaku hukum haram, makruh, sunah dan wajib menurut keadaan sebagai berikut :

–        Haram apabila dengan rujuk si istri dirugikan , artinya si istri lebih menderita dibanding sebelum rujuk.

–        Makruh apabila diketahui bahwa meneruskan pernikahan lebih buruk dan perceraian lebih bermanfaat bagi keduanya.

–        Sunnah apabila diketahui bahwa meneruskan pernikahan ( rujuk ) lebih baik daripada cerai.

–        Wajib, khusus bagi laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu jika salah seorang di talak sebelum gilirannya disempurnakan.

G. Rukun Rujuk

Rukun rujuk ada 4 :

–        Istri, syaratnya pernah digauli dan talaknya adalah talak Raj’I dan masih dalam masa iddahnya.

–        Suami syaratnya Islam, Baligh, Sehat akal, tidak dipaksa.

–        Sighat atau lafadl rujuk seperti “ saya rujuk kepadamu “

–        Saksi dua orang laki-laki yang adil.

13

BAB  IV

SUMBERDAYA KELUARGA ISLAMI

A. Tiga masalah pendidikan anak.

Sosok orang tua adalah teladan didalam membimbing dan mendidik anak-anaknya , ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  1. Sejak seorang anak dilahirkan sampai berumur 7 tahun fitrah anak dalam masa pertama ini hendaknya disirami dan dipupuk dengan  keyakinan, melatih dan membiasakan, gemar beribadah, cinta kepada sesamanya, cinta mengerjakan kebaikan-kebaikan, menjauhkan kemungkaran-kemungkaran, membaca Al-qur’an dan ilmu-ilmu yang lainnya.
  2. Sejak seorang anak berumur 7 tahun hingga 15 tahun, anak sudah dapat diberinya pelajaran sekaligus untuk diamalkannya, karena seorang anak sudah dapat melakukan pekerjaan dengan sendirinya.
  3. Sejak berumur 15 tahun sampai seterusnya anak harus dididik dengan pola yang disesuaikan dengan kepribadian anak dan memotivasinya untuk selalu berbuat baik dengan cara yang lebih terbuka dan dibarengi dengan komunikasi yang biologis dan penuh kedewasaan.

B. Keluarga bahagia.

Pada dasarnya kebahagiaan sebuah rumah tangga banyak ditentukan oleh pelaksanaan yang baik dan kewajiban suami istri serta seluruh anggota keluarganya yang saling bertanggung jawab. Misalnya , suami bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya sesuai dengan sabda Rasulullah yang artinya “ Dan jika engkau bepergian dipeliharanya herta engkau dan dijaganya darinya.”.

Jadi bila seorang suami sedang melaksanakan tugas, pergi atau dalam perjalanan maka seorang istri berkewajiban memelihara hartanya

14

Seperti yang telah dikemukakan bahwa Allah SWT mensyariatkan perkawinan karena tujuan yang tinggi yang tidak mungkin dicapai kecuali apabila pergaulan suami istri dilakukan dengan baik dengan menjalankan kewajiban masing-masing dengan penuh konsekwen dan istiqomah.

  1. Suami harus memberikan mahar pada istrinya dan itu menjadi milik istrinya yang dapat dipergunakan terhadap apa yang dikehendakinya.
  2. Suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya.
  3. Kewajiban istri adalah memenuhi segala perintah suami , selama sang suami berada dijalan Allah dan Syariat Islam.
  4. Istri tidak boleh durhaka kepada suami, menolak ajakan suami, perpaling dari melayani suami didalam kehidupan berumah tangga.
  5. Istri wajib menjadi selimut Aib , rahasia, kekurangan maupun hal-hal yang bersifat pribadi termasuk hartanya.

15

BAB  V

PENUTUP

A. Simpulan

Setelah penulis melakukan peninjauan-peninjauan dan penelitian-penelitian terhadap masyarakat, sehingga tersusunnya karya tulis ini maka penulis mendapat gambaran tentang masalah pernikahan ( Munakahat ) penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa :

  1. Pernikahan merupakan suatu ikatan yang syah dan harus dipelihara serta dibina kerukunannya oleh kedua belah pihak.
  2. Talak,rujuk merupakan masalah dalam ikatan pernikahan.
  3. Pertengkaran dan percekcokan yang disebabkan oleh perselisihan dan kesalah fahaman didalam berumah tangga adalah hal yang wajar.
  4. Pernikahan memegang peranan penting didalam masyarakat muslim  umumnya dan wanita muslimah khususnya.

B. Hambatan-hambatan.

Hambatan yang dihadapi oleh penulis diantaranya sebagai berikut :

  1. Masih banyak pernikahan dibawah umur akibat dari pergaulan bebas.
  2. Sangat minimnya pemahaman para pelajar tentang free sex sehingga banyak terjadi penyimpangan.
  3. Banyak beredarnya pornografi baik melalui media cetak, elektronik yang tidak mungkin terlewatkan oleh masyarakat awam maupun kalangan pelajar.

C. Saran-saran.

Tidak ada yang lebih berharga bagi seorang wanita kecuali kehormatan yang dimilikinya. Untuk itu penulis memberikan saran sebagai berikut :

16

  1. Hindari terjadinya pernikahan dini akibat pergaulan bebas.
  2. Saringlah budaya , tradisi barat yang menjurus kepada westernisasi yang cenderung kearah free sex.
  3. Bacalah buku.buku pendidikan yang berisikan tentang pergaulan, pernikahan dan pendidikan orang dewasa/ pendidikan sex sehingga faham betul arti dari kehidupan ini